JTTC-Kemampuan seorang karyawan untuk berbicara di depan umum (public speaking) saat ini telah menjadi standar kompetensi di beberapa perusahaan. Banyak orang yang benar-benar takut untuk berbicara di depan umum. Beberapa orang menjadi fobia akan hal itu, dan takut berada di sana dengan semua orang memperhatikannya. Mengingat bahwa seseorang harus dapat membuat presentasi di tempat kerja, melatih keterampilan public speaking adalah sesuatu yang harus dilakukan. Terlebih JTTC dan jajaran perusahaan yang tergabung dalam satu atap korporat merupakan perusahaan yang menyediakan pelayanan jasa bagi client. Dalam melayani client diperlukan keterampilan berbicara yang baik dan sopan untuk memberikan service yang excellent. Sebagai bentuk untuk meningkatkan pelayanan yang prima, Manajemen Korporat memberikan fasilitas kepada karyawan berupa pelatihan public speaking. Pelatihan public speaking ini dilaksanakan pada tangga 09 Juni 2022 dengan menghadirkan Bapak Choirul Fajri, S.I.Kom., M.A sebagai narasumber pada pelatihan kali ini. Kegiatan tersebut diawali dengan sambutan yang diberikan Direktur Korporat, Bapak Hairullah Gazali, S.E., MBA. Sambutan yang diberikan oleh Bapak Hairullah menerangkan bahwa dengan diadakannya pelatihan ini untuk menambah insight bagaimana berbicara berkomunikasi dengan client dalam rangka mewujudkan mimpi perusahaan korporat yaitu “getting a head be the first”. Serangkaian acara pelatihan dilanjutkan dengan quiz yang diberikan trainer seputar refleksi diri mengenai skill public speaking yang dimiliki, kemudian pemaparan materi dan diakhiri dengan memperagakan public speaking sebagai bentuk evaluasi materi yang telah diberikan sebelumnya. Kegiatan ini diharapkan akan menjadi agenda yang nantinya diberikan kepada seluruh pegawai korporat sesuai dengan batch yang telah ditetapkan.
Pelatihan Pengelolaan dan Pelayanan pada Homestay dan Desa Wisata
JTTC-Salah satu strategi yang dapat diterapkan pemerintah dalam rangka menggalakkan pariwisata berbasis masyarakat adalah dengan adanya homestay. Secara umum sejatinya tidak hanya homestay yang dapat dijadikan bisnis, namun pada daya tarik wisata juga dapat dijadikan bisnis yang menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila dalam pengelolaannya betul-betul diperhatikan dengan baik. Akomodasi memiliki berbagai macam jenis, seperti homestay, guest house, dan hotel. Perkembangan industri akomodasi tentunya akan mendukung perkembangan kegiatan pariwisata di kawasan wisata. Salah satu objek wisata yang saat ini sedang dikembangkan adalah desa wisata atau village tourism. Pandemi Covid-19 berdampak secara signifikan pada banyak industri, termasuk dunia pariwisata. Terdapat beberapa pendapat dari sejumlah pengamat dan pakar pariwisata yang meyakini bahwa pandemi Covid-19 akan mengubah kecenderungan perilaku perjalanan seseorang. Contohnya adalah untuk pemilihan destinasi wisata, dimana terdapat kelompok wisatawan yang menghindari destinasi wisata yang ramai. Dalam hal kesehatan, wisatawan di masa seperti sekarang ini akan lebih memperhatikan kesehatan mereka, baik dari sisi lingkungan destinasi, akomodasi sampai dengan ketersediaan makanan dan minuman. Upaya untuk mengembalikan eksistensi sektor pariwisata mulai terlihat. Salah satunya yaitu dengan diadakannya program peningkatan tujuan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) dalam penerapan protokol CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environment) di salah satu destinasi wisata. Desa wisata menjadi salah satu sasaran utama dalam strategi pembenahan, sebab desa wisata diharapkan menjadi destinasi pilihan wisatawan. Untuk memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam memberikan layanan homestay dan desa wisata dibuatlah Pelatihan Pengelolaan Homestay dan Desa Wisata untuk Kab. Kulon Progo yang disusun berbasis pada Standar Kompetensi Nasional Indonesia (SKKNI). Pelatihan ini diselenggarakan selama 4 hari, pada tanggal 06-09 Juni 2022 dengan materi meliputi Pengantar Homestay/Pondok Wisata dalam Sistem Kepariwisataan, Manajemen pengelolaan Homestay, Penerapan Kebersihan dan Kesehatan dalam Peningkatan Kualitas Layanan, Sesi Kunjungan Lapangan dan lain sebagainya. Pelatihan ini merupakan pelatihan yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata (Dispar) Kab. Kulon Progo dan Jogja Tourism Training Center (JTTC) yang berlokasi di Hotel The Rich Yogyakarta dan Hotel Indoluxe. Harapan dari pelatihan pengelolaan homestay dan desa wisata ini yaitu menciptakan SDM Pariwisata di Kab. Kulon Progo yang lebih berkompeten sehingga dapat mendekatkan Kab. Kulon Progo menjadi kota tujuan destinasi wisata. Untuk informasi pelatihan di bidang pariwisata dan pengembangan SDM dapat menghubungi Admin Kami di nomor (+62 811-2647-094)
Direktur Korporat Hadiri Penutupan Pelatihan Pengelolaan Desa Wisata dan Daya Tarik Wisata di Desa Wisata Pandanrejo, Purworejo
JTTC-Serangkaian kegiatan pelatihan dan pendampingan desa wisata yang dilaksanakan oleh Badan Pengelola Otorita Borobudur (BPOB) yang sebelumnya dilaksanakan selama kurang lebih dua bulan, terhitung mulai tanggal 04 April-02 Juni 2022 akhirnya telah mencapai puncak kegiatan yaitu penutupan pelatihan pengelolaan desa wisata dan daya tarik wisata yang dilaksanakan di Desa Wisata Anjangsifa, Pandanrejo, Purworejo. Puncak acara dari kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 02 Juni 2022 dengan dihadiri Direktur Utama BPOB, Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo, Magelang, dan Purworejo, Direktur Korporat JTTC dan tamu-tamu lainnya. Acara ini diawali dengan kemeriahan lagu-lagu yang dibawakan oleh Band Parungyan Jesben, yang kemudian dilanjutkan dengan tarian Incling oleh Dewa Pandan Tari Langen Sari. Pelatihan yang diselenggarakan oleh BPOPB ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pariwisata akan penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam mengelola destinasi wisata. Dengan diadakannya pelatihan ini akan memberikan pemahaman kepada para pelaku daya tarik wisata juga sebagai bentuk preventif dari kegagalan dalam pengelolaan desa wisata dan daya tarik wisata. Dalam acara penutupan tersebut juga ditandai dengan pengesahan SOP yang ditandatangani oleh desa wisata yang diwakili pengelola desa dan kepala desa, diketahui oleh Dinas Pariwisata tiga kabupaten (Galang Projo), Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta, Ketua Jana Dharma Indonesia dan Direktur Utama BPOP.
Pemerintah Kab. Kulon Progo Mempersiapkan Destinasi Wisata Berkelas Dunia dengan Pelatihan Pengelolaan Desa Wisata dan Pelatihan Pengelolaan Homestay
JTTC-Dalam rangka menciptakan Kulon Progo sebagai kota destinasi wisata berkelas dunia, Dinas Pariwisata (Dispar) Kab. Kulon Progo menggandeng Jogja Tourism Training Center (JTTC) untuk terlibat dalam perencanaan menuju kota destinasi wisata berkelas dunia. Salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan mengadakan Pelatihan Pengelolaan Desa Wisata dan Pelatihan Pengelolaan Homestay. Pelatihan ini dilaksanakan sebagai bentuk mempersiapkan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Sektor Pariwisata. Pelatihan yang dilaksanakan selama 4 hari, tanggal 6-9 Juni 2022 ini berlokasi di Hotel The Rich Yogyakarta dan Hotel Indoluxe. Metode pelatihan ini dibagi menjadi dua. Diantaranya yaitu pemberian materi bagi peserta pelatihan dari desa wisata, praktisi homestay dan sarjana departemen pariwisata. Metode kedua adalah pembelajaran lapangan dimana peserta pelatihan mengunjungi Umbul Ponggok di Klaten langsung untuk peserta pelatihan di desa wisata dan Mangunan di Bantul langsung untuk peserta pelatihan di homestay/gubuk wisata. Pelatihan ini dilakukan dengan harapan untuk dapat meningkatkan pengetahuan, motivasi dan kemampuan daripada pengelola desa wisata dan homestay serta menjadikan peserta pelatihan lebih berkompeten dan mumpuni dalam mengelola desa wisata dalam melayani wisatawan lokal maupun mancanegara.
Dihantam Pandemi Covid, Kulon Progo Lakukan Strategi Pariwisata
JTTC-Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung selama dua tahun ini berdampak pada semua sektor, termasuk pariwisata. Akibat pembatasan itu, tidak ada kunjungan ke objek wisata, termasuk Kulonprogo. Joko Mursito, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kab. Kulonprogo, mengatakan bahwa sektor pariwisata Kulonprogo justru membaik selama pandemi dari segi infrastruktur sampai dengan manajemen SDM itu sendiri. Dispar telah memberikan fasilitas pelatihan dan pendampingan selama masa pandemi untuk para pegiat pariwisata di Kab. Kulon Progo. Pada musim Lebaran di tahun 2022, setidaknya terdapat empat fasilitas wisata yang telah selesai dibangun untuk meningkatkan akses wisata di beberapa tempat dalam menyambut wisatawan. Instalasi ini seharusnya tidak hanya digunakan sebagai tempat untuk berfoto, tetapi juga memiliki tujuan untuk pendidikan. Strategi yang juga dilakukan oleh Dispar Kulon Progo yaitu dengan melakukan kunjungan ke tempat-tempat wisata untuk melakukan bincang-bincang antara pemerintah dengan pengelola tempat wisata. Bincang-bincang tersebut dilakukan untuk memetakan potensi dan hambatan yang dimiliki dari tiap tempat wisata yang kemudian akan diberikan solusi terbaik yang bersumber dari kerjasama antara masyarakat dengan pemerintah.
Keseruan kunjungan JTTC pada Event Matra Kriya Festival Dinas Kebudayaan DIY
JTTC-Berbagai project kerjasama Jogja Tourism Training Center (JTTC) dengan Dinas-dinas pemerintahan di Indonesia, yang salah satunya Dinas Kebudayaan DIY yang telah dilakukan bahkan hingga saat ini mendorong terciptanya hubungan yang intimate juga dinamis diantara keduanya. Sebagai salah satu bukti dukungan yang selalu diberikan diantara keduanya yaitu JTTC melakukan kunjungan pada acara “Matra Kriya Festival” yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan DIY dengan menggunakan Dana Keistimewaan Yogyakarta. Acara Matra Kriya Festival tersebut dilaksanakan pada tanggal 21-28 Mei 2022 yang berlokasi di Taman Budaya Yogyakarta. Acara tersebut merupakan acara pameran sekaligus perlombaan di bidang kesenian yang dibuka untuk masyarakat umum. Berbagai karya seni ditampilkan dimulai dari kain batik, topeng, dan karya seni menarik yang lainnya. Selain itu juga, terdapat seminar-seminar yang berkaitan dengan kesenian dan kebudayaan dilaksanakan. Tak ketertinggalan, parade karnaval jogja yang dimeriahkan oleh Sanggar Anggrek, Ontoseno Productiona dan Skatusa SMKN 1 Saptosari. Keseruan daripada serangkaian acara Matra Kriya Festival berhasil menarik perhatian pengunjung pameran yang berasal dari tidak hanya Yogyakarta namun dari Jawa Tengah sampai dengan Jawa Barat. Antusiasme yang dihasilkan dari semarak kemeriahan acara Matra Kriya Festival menciptakan antrian pengunjung yang mengular, terlebih pada hari terakhir pameran dilaksanakan.
Kolaborasi JTTC dan PPJI dalam Mengembalikan Eksistensi Usaha Catering Makanan Melalui Peningkatan Kualitas SDM
JTTC-Adanya Pandemi pada semester akhir tahun 2020 banyak memberikan dampak yang besar di dunia bisnis makanan. Wabah Covid-19 menerbitkan keputusan pemerintah Indonesia kala itu yakni melarang masyarakat untuk berkumpul dan membatasi aktivitas masyarakat. Salah satu pedoman mereka adalah pemerintah juga melarang diadakannya resepsi pernikahan untuk mencegah penyebaran virus Covid 19. Kondisi ini tentunya memberi dampak bagi usaha yang terlibat dalam usaha jasa boga. Pun berdampak pada usaha katering untuk pesta pernikahan. Melihat fakta lapangan yang begitu memprihatinkan mendorong Jogja Tourism Training Center (JTTC) dan Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI) untuk banyak melakukan kolaborasi di bidang pelatihan pengembangan SDM bahkan turut melibatkan Lembaga Sertifikasi Profesi Jana Dharma Indonesia (JDI) pengadaan sertifikasi dan uji kompetensi yang difasilitasi oleh Dinas Pariwisata Yogyakarta dan BNSP. Kolaborasi antara JTTC dengan PPJI ini bukan hal yang pertama kali dilakukan, telah terjalin hubungan yang baik diantara keduanya dalam rangka upaya untuk meningkatkan kualitas SDM di sektor pariwisata. PPJI mempercayakan penuh kepada JTTC untuk menjalankan baik itu pelatihan pengembangan SDM maupun berkolaborasi dengan JDI dan BNSP untuk mengadakan uji kompetensi. Pemberian pelatihan dan uji kompetensi penting untuk dilakukan dalam rangka menyambut peralihan ke new normal yang nantinya akan mendatangkan kembali wisatawan-wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Uji kompetensi berguna untuk memberikan standarisasi kepada para pegiat pariwisata maupun hospitality dan nantinya menjadi bukti autentik daripada kompetensi individu yang dimiliki. Untuk informasi pelatihan dan pendampingan dapat menghubungi admin kami, Mira (081215017910)
Strategi Bisnis Makanan Online di Tengah Gelombang Pandemi
JTTC-Kita ketahui bersama di saat awal pandemi seluruh sektor kehidupan dan perekonomian mengalami dampak yang begitu besar, tak terkecuali jasa penyedia makanan, seperti catering, restoran, rumah makan, dan UMKM di bidang makanan lainnya. Di awal pandemi, sektor penyedia jasa makanan mengalami kemrosotan profit yang begitu besar, hingga banyak dari usaha-usaha tersebut mengalami kebangkrutan dan terpaksa untuk menutup usaha mereka sementara waktu hingga waktu yang tidak ditentukan. Begitu juga dengan Salah satu organisasi yang menaungi usaha catering, restoran, rumah makan, dan pendukung penyedia jasa makanan yakni Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI) merupakan dengan anggota organisasi berjumlah sekitar 300 usaha. Sri Wahyuni Dewi mengatakan, “setidaknya 99 persen anggota PPJI terdampak oleh adanya pandemi ini, kecuali anggota yang bergelut di bidang penyedia jasa catering di rumah sakit. Namun kami memiliki cara yaitu dengan membuat makanan dalam bentuk beku dan kemudian dikembangkan melalui platform online.” Terdampaknya anggota PPJI disebabkan oleh kurangnya pesanan katering untuk pernikahan dan acara besar lainnya. Juga tidak menerima pesanan katering dari perusahaan yang sudah lama berlangganan karena adanya kebijakan dari pemerintahan pusat. Oleh sebab itu diperlukan kreatifitas dengan mengadopsi strategi yang berbeda dari sebelum terjadinya pandemic yakni dengan pemasaran online. Strategi tersebut terus dilanjutkan sampai dengan saat ini meskipun sempat mengalami hambatan karena selain banyaknya persaingan yang kian menjamur, juga disebabkan oleh pandemi yang berlangsung berkepanjangan mendorong masyarakat untuk berhidup hemat yang membuat masyarakat menurunkan keinginannya untuk berbelanja.
Menilik Pelatihan Pemandu Wisata Budaya dalam Permenparekraf Nomor 4 Tahun 2022
JTTC-Pariwisata merupakan salah satu sektor strategis yang memiliki peran dan kontribusi penting dalam pembangunan perekonomian nasional maupun daerah. Kemajuan dan kesejahteraan ekonomi yang semakin tinggi telah menjadikan pariwisata sebagai bagian pokok dari kebutuhan atau gaya hidup manusia. Bahkan telah menggerakkan jutaan manusia untuk mengenal alam dan budaya ke belahan dunia lainnya. Bila kita mengacu ke dalam konstitusi, yaitu Undang-Undang Republik Indonesia nomor 9 tahun 1990 tentang Kepariwisataan, pariwisata didefinisikan sebagai segala sesuatau yang berhubungan dengan wisata, termasuk obyek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut. Sementara pengertian pariwisata dalam The World Tourism Organization (UNWTO) adalah fenomena sosial, budaya, dan ekonomi yang melibatkan perpindahan orang ke negara atau tempat di luar lingkungan biasanya untuk tujuan pribadi, bisnis, atau profesional. Dari pengertian-pengertian di atas, dapat kita simpulkan bahwa pariwisata berhubungan dengan aspek-aspek lain. Salah satu aspek yang berhubungan dengan pariwisata tersebut adalah budaya. Karena budaya merupakan seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan oleh manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan miliknya dengan cara belajar (Koentjaraningrat). Guna meningkatkan kualitas tata kelola destinasi pariwisata dan kapasitas sumber daya manusia bidang pariwisata, pemerintah melalui Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia nomor 4 tahun 2022 memberi petunjuk teknis tentang penggunaan dana alokasi khusus nonfisik dana pelayanan kepariwisataan. Termasuk di dalamnya pelatihan pemandu wisata budaya yang meliputi cagar budaya: museum, keraton, candi. Pelatihan pemandu wisata budaya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, motivasi, dan kompetensi para pemandu wisata budaya agar dapat meningkatkan profesionalisme dan kualitas pelayanan pemanduan wisata kepada wisatawan. Metode pelatihannya berupa penyampaian materi, diskusi dan kerja kelompok, serta praktik/latihan. Pokok materi pelatihan pemandu wisata budaya meliputi penyelenggaraan pemanduan wisata budaya; merencanakan, mempersiapkan, dan melaksanakan pemanduan wisata budaya; informasi tentang kebudayaan dan cagar budaya untuk pemandu wisata budaya; interpretasi dalam pemanduan wisata budaya; dan penyelenggaraan kegiatan wisata budaya pada masa penanganan Covid-19. Kelima materi tersebut berbentuk paparan. Selain itu, ada materi diskusi kelompok evaluasi terhadap praktik pemandu wisata budaya yang telah dilakukan oleh peserta pelatihan dan materi praktik kepemanduan wisata budaya. Jogja Tourism Training Center (JTTC) sebagai sebuah lembaga pelatihan dan pengembangan SDM umum dan bidang pariwisata yang didirikan oleh kolaborasi UGM, ASITA DIY, dan PHRI DIY, juga memberikan service pelatihan tersebut. Dalam memberikan pelatihan, JTTC telah berkompeten dengan dipercayai dinas dan instansi di Indonesia. Untuk informasi mengenai pelatihan dan kerjasama di bidang pariwisata dapat menghubungi Mira (0812-1501-7910).
Pembukaan Pelatihan Usaha Event Organizer Semakin Menggeliat
JTTC-Jogja Tourism Training Center (JTTC) dengan Dinas Ketenagakerjaan Kota Yogyakarta terus berlanjut. Tema pelatihan event organizer dipilih oleh keduanya untuk melanjutkan pelatihan-pelatihan pengembangan SDM sebelumnya yang telah dilaksanakan. Pelatihan ini berlangsung selama 30 hari terhitung sejak tanggal 31 Mei 2022 sampai tanggal 5 Juli. Serangkaian acara pelatihan event organizer yang dilaksanakan pada tanggal 31 Mei 2022 ini dimulai dengan sambutan acara oleh Direktur korporat Bapak Hairullah Gazali. Kemudian, pelatihan ini dibuka oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Yogyakarta yang diwakilkan oleh Ibu Rr. Sutini Sri Lestari SH, M.Si selaku Sekretaris Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Yang kemudian pelatihan usaha event organizer nantinya akan diisi dengan 2 pendekatan, diantaranya klasikal dan praktik. Dalam sambutannya, Sekretaris Dinas mengatakan bahwa dengan dihadapkannya pada situasi pandemi di tahun ketiga, diperlukan usaha dan inovasi yang dikerahkan untuk menggeliatkan kembali perekonomian di Indonesia. Dengan memanfaatkan segala fasilitas dan kemampuan yang dimiliki untuk menunjang kegiatan perekonomian. Pada tahun-tahun sebelumnya ketika di awal pandemi, suatu event atau kegiatan sulit untuk dilaksanakan disebabkan oleh ketatnya peraturan pemerintah untuk mengurangi gerak dalam rangka memerangi virus covid-19. Hingga pada akhirnya memasuki tahun kedua, terdapat kelonggaran yang diberikan pemerintah kepada masyarakat memunculkan motivasi untuk kembali bangkit bagi event-event organizer maupun pelaksana Meeting, Incentive, Convention, dan Exhibition (MICE). Melihat fakta lapangan tersebut, menuntun JTTC dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Yogyakarta untuk melaksanakan pelatihan event organizer bagi masyarakat. Peserta pada pelatihan ini berjumlah 20 orang yang berasal dari Kota Yogyakarta. Dari keseluruhan peserta tersebut merupakan lulusan kuliah sampai dengan pengangguran. Harapan dari JTTC dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Yogyakarta yaitu membuka kesempatan kepada masyarakat untuk menambah pengetahuan dan memulai usaha kecil event organizer dengan skill baru yang dimiliki.